The day he breaks my heart

Beberapa waktu terakhir ini; lagi dilanda kegalauan sebagai ibu bekerja. Bener aja, ternyata dan ternyata, punya anak itu makin besar memang makin kompleks. Banyak ibu (termasuk gue) yang mengira, segala kewajiban akan menjadi semakin ringan seiring dengan tumbuh besarnya anak. Itu juga  salah satu alasan kenapa nggak berhenti-berhenti kerja: nanti juga lewat, kalau sudah besar paling nggak seberat ini, dan pembenaran-pembenaran lain.

Selain itu juga ada pembenaran-pembenaran lain yang kasat mata. Misalnya, repotnya punya anak alergi dan gampang batpil tapi kemudian berkurang setelah menginjak umur 5 tahunan. Repotnya masak menu khusus buat anak, tapi semakin besar sudah bisa ikut makanan keluarga. Dan masih banyak lagi.

Itu bener sih. Tapi kita lupa, ternyata banyak lagi hal-hal yang timbul setelah dia tumbuh semakin besar. Terutama, setelah memasuki usia sekolah. Seperti misalnya, schedule adjustment bagi orang tua karena harus nyiapin bekal dan anter anak ke sekolah. Membaca pesan-pesan dari gurunya. Belum lagi setumpuk kado buat temannya yang ulang tahun sepanjang tahun. Menu bekal (dan paling kalang kabut kalau roti habis). Menyiapkan sejuta trik untuk membangunkan anak supaya mereka mau bangun pagi dan tetap in the good mood saat melenggang ke sekolah. Belum lagi ikut belajar dan memperkaya materi pelajaran dengan mengembangkannya di rumah. Dan yang terpenting, mulai mendengarkan cerita-cerita mereka tentang ibu guru, tentang pelajaran, tentang teman-temannya.

Yes, teman-teman. Saat ini, proses berteman inilah yang lagi bikin aku khawatir.

Kita, orang tua, tau banget gunanya 'berteman yang baik'. Setelah semakin tua, teman kita semakin sedikit tapi semakin dalam. Saat ini, seringkali kita nggak ragu-ragu untuk ninggalin teman karena berbagai hal. Pastinya sih tolak ukur pertemanan dilihat dari standar kegunaan dan proteksi terhadap diri kita sendiri. Oh ya, sama satu lagi: enggak caypoh sama idup kita! Setuju?

Tapi untuk anak umur 5 tahun? Ya dia lagi seneng-senengnya main dan belajar berteman. Proses ini masih panjang, dan apa yang terjadi sama Titan barulah awal.

Nah, akhir-akhir ini Titan punya peer-group di sekitar rumah. Karena kita tinggal di perkampungan betawi, it's hard for me to say this, sorry ... but ... sebagian teman-teman dia itu adalah anak-anak sebayanya yang rata-rata enggak bersekolah, ibu bapaknya tidak berpendidikan, walaupun Titan cuma menghabiskan waktu sekitar 2 jam bermain bersama mereka; tapi karena setiap hari, terasa sekali pengaruh buruk anak-anak itu terhadap Titan.

Misalnya aja, dia mulai suka menyembunyikan sesuatu. Karena dia tau, itu salah. Misalnya lagi, dia sekarang sudah pintar menyalakan korek api batang, yang tentunya dia pelajari dari teman-temannya itu dalam acara main bakar-bakaran. Atau melupakan worksheets yang harus dia kerjakan. Lupa mandi sore. Mulai membangkang dan berteriak-teriak saat bicara, dan masih banyak lagi.

Oooo, ... my son is getting wild *lebayyyy*

Selama ini aku nggak pernah ngelarang Titan secara lugas bahwa dia nggak boleh main sama mereka. Sampai suatu saat, Titan jatuh ke got di depan rumah yang dalamnya kira-kira 1 meter dan tidak ada seorang pun dari teman-temannya yang membantu.

Kenapa? Tentu aja mereka takut.

Alasan itulah yang akhirnya aku pakai untuk menjelaskan ke Titan bahwa bermain dengan tipe orang seperti mereka enggak ada gunanya. Teman-teman itu seharusnya saling membantu. Lalu aku ingatkan kejadian di sekolahnya dulu, waktu Titan terjatuh dari ayunan dan seorang kakak kelasnya langsung menghampiri dan bertanya "Are you okay?" ... that's what a friend should do.

Tapi kemudian dia menjawab "Tapi Titan pengen main. Terus main sama siapa lagi, dong? Masa Titan enggak boleh main?"

Oh, ... jleb jleb jleb rasanya :(


I know I suppose to be there for you to play with, but I can't because I'm working.
I know he can actually play with them under my supervision and minimize the bad influences, 
but I cannot because I am working.
I know Aki and Nini were around, 
but it is too much if I asked them to supervise you every minutes.
I know, I also take part of the situation. 
I know.

Sampai saat ini, masalah ini belum terpecahkan selain Titan bermain dengan dibatasi pagar tinggi dimana dia tidak boleh selangkah pun keluar dari pagar. Mereka mengobrol, atau terkadang anak-anak itu memberi Titan kapur yang entah darimana datangnya dan bersama mereka mencoret-coret tembok. Coretan Titan, tentu gambar mobil dan cerita. Gambar mereka? Awut-awutan nggak jelas.

Miris melihatnya atau mendengar ceritanya setiap kali aku menelfon Titan di sore hari.

Sejak kapan berteman harus berbatas besi?

Dulu juga aku bermain bersama 'anak kolong'. Main layangan di atap rumah dan perosotan di sepanjang atap asbes. Tapi bedanya, ada mamah di rumah yang menyaksikan dan memastikan aku baik-baik saja. Lah ini?

*Menarik nafas dalam-dalam*
Sabar ya nak, sampai Bunda pikirkan bagaimana pemecahan masalahnya yang paling baik.

Yang ke dua, dimana Titan mulai 'berusaha' untuk menyembunyikan sesuatu. Kenapa aku bilang 'berusaha' karena selalu aja ketauan hahaha. Tapi, ... dia lambat laun akan belajar bagaimana supaya tidak ketahuan. Because lying is a skill.

Aku enggak pernah nyalahin kalau dia ketahuan berbohong. Bohong itu sangat manusiawi. Kita aja orang tua masih sering berbohong. Sama siapapun. Aku cuma bertanya, kenapa dia tidak terus terang. Dan jawabnya pasti satu "Takut Bunda marah."

Berbohong adalah salah satu defense mechanism, 
and yes, my son is learning how to defend himself.

Saat itulah aku menyadari, this is the day my little guy breaks my heart. Yes, that day finally comes. Hari dimana aku tahu, bahwa aku tidak bisa selamanya mendampingi dia. That when he is out of my sight, he could do anything he wants or ever wanted. Bahwa pada suatu titik, dia akan mengabaikan aku ibunya; atau nilai-nilai yang selama ini aku tanamkan. He is on his own.

Saat itu, aku tersadar. Bahwa anakku adalah individu bebas, dan yang bisa aku lakukan hanyalah memberi tahu dan menjelaskan segala konsekuensi dari segala tindakan yang dia ambil. Masih sering dia bertanya "Konsekuensi itu apa sih, Bunda?" Dan setiap kali aku jelaskan, sebanyak kali itu pula dia masih belum mengerti.

Ternyata, bagaimanapun aku telah melakukan berbagai cara untuk menyiapkan dia untuk bisa menentukan pilihan dan menerima konsekuensinya, ... saat ia membuat pilihan yang aku tidak suka, tetap rasanya nyelekit-nyelekit di hati. Dan aku masih harus dan harus lebih banyak belajar untuk ikhlas akan setiap pilihannya, dan harus menerima saat dia menjalani konsekuensinya tanpa harus campur tangan untuk membantu.

Kembali ke soal bohong, aku enggak pernah memarahi. Aku cuma bilang, buat apa berbohong? Rasanya nggak enak, kaya harus menutupi sesuatu berkepanjangan. Kaya ada yang ganjel, kaya punya beban, nanti Titan malu sendiri kalau melihat Bunda.

Titan diam.

Lalu bubunya menambahkan, kenapa berbohong itu tidak baik. "Karena, orang yang suka berbohong itu tidak akan dipercaya orang lain. Nanti kamu akan tahu, betapa sulitnya hidup jika tidak mendapat kepercayaan dari orang lain."

Emaknya ini cuma bisa meluk dan bilang "Jangan bohong lagi ya, apalagi hanya karena takut dimarahin sama Bunda."





Comments

Popular Posts